Belitung Trip: Serunya Menjelajahi Negeri Laskar Pelangi

Bukan Sansadhia namanya kalau nggak “ngeracunin” orang buat ngetrip ke sana-ke mari. Dialah orang pertama yang merayu saya untuk membeli tiket kalau lagi ada banyak promo trip ini dan itu. Yamumpung promo, kapan lagi… katanya dengan memelas.

Ide perjalanan ke Belitung saat itu bisa dibilang “gila” karena selain minim persiapan, kami pun minim budget. Yang penting bagi saya adalah modal nekad. Yep, kapan lagi bisa jalan-jalan kalau nggak diniatin dari sekarang.

Singkat cerita, jadilah kami membeli tiket pesawat untuk pergi ke Belitung selama tiga hari. Kami berangkat pada hari Jumat siang dan pulangnya Senin pagi. Tiket kami beli sekitar tiga bulan sebelum keberangkatan. Itu pun baru tiket perginya aja, lho yang kami beli!

Semua jadi serba terburu-buru karena kami baru kali pertamanya ke Belitung. H-3 sebelum keberangkatan, kami masih sibuk mencari-cari informasi mengenai transportasi dan harga sewa boat untuk hopping island selama di sana.

Hari-H

Jumat siang waktu itu jalanan Ibu Kota cukup lengang. Saya berangkat dari rumah menuju bandara Soetta sekitar pukul 11 siang dari jadwal keberangkatan pukul 3 sore.

Namanya juga nge-trip ala backpacker, jadinya barang bawaan kami cukup ransel dua buah. Isinya yang satu cemilan, sementara yang satunya lagi pakaian dan perlengkapan lainnya. Oh iya, nggak ketinggalan sebilah tongsis dan kantong plastik kosong yang akan kami gunakan untuk pakaian basah nantinya.

Pukul 4 Sore di Belitung

Akhirnya… Mendarat juga kami di Belitung! Tongsis yang tadinya masih mengganjal di dalam ransel, saya keluarkan untuk foto-foto di bandara H.A.S. Hanandjoeddin yang menjadi salah satu ikon dari kota Tanjung Pandan, kalau di GoogleMaps adanya di sebelah baratnya Belitung.

Jpeg
Bandara H.A.S. Hanandjoeddin di Kota Tanjung Pandan
Lobi bandara yang nggak terlalu ramai
Lobi bandara yang cukup nyaman

Karena nggak ada barang bagasi yang kami bawa, langsung saja kami menuju pintu keluar bandara dan segera menghubungi seseorang untuk mengantarkan kami ke hotel. Oh iya, kami menggunakan jasa mobil pribadi yang biasa disewakan untuk mengangkut wisatawan. Harganya sekitar 35 ribu rupiah per orangnya dengan mobil sekelas Avanza!

Perjalanan dari bandara ke hotel serasa menyenangkan. Saya takjub melihat jalanan Kota Tanjung Pandan yang cukup lengang dan jarang sekali ada lampu merahnya. Kata bapak supir yang menjemput kami di bandara, setiap hari di sini nggak ada macet. Wow… 

Nggak lama kemudian kami tiba di hotel Belitong Inn tempat kami menginap. Sekilas, hotel ini memang mirip wisma karena bentuk bangunannya yang sederhana. Lobinya saja hanya berjarak sejengkal dari parkiran dengan petugas pelayanan hanya satu orang. Tapi, begitu masuk ke kamarnya, upss… ya, ini memang hotel!

Pantai Tanjung Pendam

Setelah semua urusan administrasi check in selesai, saya dan Sansadhia langsung beberes, terus pergi menuju pantai terdekat dari pusat kota sore itu juga. Namanya pantai Tanjung Pendam. Pantainya cukup bersahabat dan ramai, pertanda kalau pantai ini satu-satunya objek wisata alam keluarga yang ada di pusat kota. Tiket masuknya juga nggak mahal-mahal banget, cuma 3 ribu rupiah untuk satu sepeda motor. Langsung deh kami mengeluarkan tongsis andalan dan langsung bergaya di bibir pantai. Cheesee! (Sayangnya foto-foto kami berdua di pantai ini sudah keburu saya delete duluan karena kamera smartphone saya ala kadarnya hehehe.)

Sunset Pantai Tanjung Pendam Sumber: sellyhandela.blogspot.com
Sunset Pantai Tanjung Pendam
Sumber: sellyhandela.blogspot.com

Berhubung kesorean, kami hanya foto selfie sebentar berlatar pepohonan dan kayu, terus kembali lagi keluar area pantai. Sialnya, pukul 6 sore di sana gelap sekali karena penerangan jalan di sekitaran pantai sangat minim. Alhasil, saya dan Sansadhia kalang kabut mencari petunjuk jalan menuju ke pusat kota.

Ruma Makan Belitong Timpo Duluk

Perut kami pun terasa lapar setelah mencari-cari jalan keluar. Sansadhia mulai googling mencari tempat makan yang enak. Akhirnya kami menemukan rumah makan Belitong Timpo Duluk yang katanya terkenal ramai itu. Kami langsung tancap gas ke lokasi tempat makan yang dimaksud bermodalkan GoogleMaps!

Setelah menyusuri berbagai jalan dan gang kecil, kami berhasil melihat plang rumah makan Belitung Timpo Duluk. Lokasinya berada di Jalan Lettu Mad Daud, Tanjung Pandan, nggak jauh dari pusat oleh-oleh khas Belitung yang ada di Jalan Sriwijaya.

Ruma Makan Belitong Timpo Duluk1_1
Ruma Makan Belitong Timpo Duluk1_1
Ruma Makan Belitong Timpo Duluk1_2
Ruma Makan Belitong Timpo Duluk1_2
Ruma Makan Belitong Timpo Duluk1_3
Ruma Makan Belitong Timpo Duluk_interior

Memang betul apa yang dibilang orang-orang di luar sana, restoran ini sangat ramai, apalagi kalau weekend. Saya penasaran sama masakan yang ditawarkan di restoran ini. Apa sih yang bikin dia selalu ramai. Saking penasarannya, bertanyalah saya ke petugas kasirnya dan mengintip sedikit soal menu handalan rumah makan ini. Ternyata menu masakannya ya terdiri dari berbagai macam lauk-pauk tradisional. Katanya sih masakan di sini enak-enak. Mungkin juga karena resepnya sendiri yang bikin beda.

Pemandangan bagian dalam restoran ini juga dipermanis dengan barang-barang tradisional yang digantung di dinding. Memang seperti berada di tempo dulu.

Tapi sayangnya, Dewi Fortuna lagi nggak berpihak pada kami. Begitu saya mau pesan meja untuk dua orang, eh, si petugas kasirnya bilang kalau restoran ini sudah penuh. Kalau mau makan di sini mesti book dulu dan meninggalkan nomor telepon. Issh

Beruntung kami masih punya dua hari lagi di Belitung jadi bisa kembali lagi ke sini keesokan harinya. Alternatif makanan di pinggir jalan juga lumayan banyak, kok, tapi saya tetap harus pakai indera keenam untuk mendeteksi makanan enak. Akhirnya saya melipir ke sebuah gubuk yang menjual makanan rumahan, lengkap dengan masakan khas Belitungnya lagi, gangan namanya. Nyamm!

Selain harus save budget, kami juga harus save energy untuk itinerary selanjutnya! Selesai makan, saya dan Sansadhia kembali lagi ke hotel untuk beristirahat. Iyalah, baru saja sampai di hotel, eh, udah berkelana kemana-mana…

Danau Kaolin

Pagi-pagi sekitar pukul 5 saya sudah mendengar teriakan Sansadhia. Ayam jago saja sampai nggak mau berkokok saking melengkingnya tuh suara.

“Juni, ayo bangun. Kita kan mau ke Danau Kaolin…” Saya langsung lompat dari tempat tidur dan langsung menuju kamar mandi. Well, pagi itu memang sudah kami jadwalkan untuk pergi ke Danau Kaolin. Danau ini kami jadikan tujuan wisata yang pertama karena paling dekat dengan hotel. Kapan lagi bisa menikmati suasana danau sambil ditiup angin sepoy-sepoy pagi-pagi buta.

FYI, Danau Kaolin ini tadinya adalah lokasi tambang timah yang menyisakan limbahnya sampai berbentuklah seperti sebuah kawah gunung. Airnya saja berwarna kehijauan. Bahkan, saking miripnya sama kawah saya sempat berpikir ini adalah Kawah Putihnya Ciwidey!

Oke, saya dan Sansadhia langsung mengambil sudut yang pas buat selfie-an, dan… here we are!

10911320_10206483018652076_8237456627640014727_o
Danau Kaolin yang membiru
12144723_10206483024172214_6884606559216496052_n
Masih muka bantal, alias nyawanya masih ketinggalan di hotel 😛

Sehabis selfi-an, kami berdua kembali lagi ke hotel untuk mandi. Astaga, sampai lupa kalau kami belum mandi tapi udah berkeliaran ke Danau Kaolin!

SD Muhammadiyah Gantong (SD Replika Laskar Pelangi)

Trip selanjutnya yang menjadi destinasi kami adalah Sekolah Dasar Replika Laskar Pelangi di Desa Gantung, Belitung Timur. Letaknya lumayan jauh dari hotel, sekitar 100 km. Jarak segitu kami tempuh dalam waktu 2 jam saja menggunakan sepeda motor dengan kecepatan yang bisa dibilang “barbar”. Itu sudah sekalian sama nyasarnya dan berhenti beberapa kali untuk mengisi bensin.

Perjalanan kami menuju ke Desa Laskar Pelangi memang penuh perjuangan aral rintangan karena melewati jalan besar dan panjang yang hampir nggak ada persimpangannya. Beberapa kali sepeda motor kami disalip bus dan truk-truk besar berkecepatan tinggi!

Begitu sampai di SD Replika Laskar Pelangi seperti melihat sebuah oase. Bangunannya berdiri sendiri dengan satu gapura kecil sebagai pintu masuk utamanya. Saya sendiri heran melihat sekolahan yang sebatang-kara itu. Ternyata sekolahan yang menjadi latar utama film Laskar Pelangi itu benar-benar ada. Saya membayangkan kalau di sana sedang ada kegiatan belajar-mengajar jadi bisa bertemu Ikal dan kawan-kawan (hehehe). Sayangnya, sekolah itu sekarang hanya menjadi objek wisata.

Jpeg
SD Replika Laskar Pelangi
12141738_10206528925359715_7525853737222850826_n
Saya berpose di bawah plang
Jpeg
Sansadhia di dalam kelas
Jpeg
Memandang keluar

Yang membuat sekolahan ini unik adalah bangunannya yang miring ke kanan dan terlihat seperti mau roboh. Mungkin karena terpaan angin besar mengingat sekolahan ini berdiri sendiri di tengah-tengah dan hanya terbuat dari kayu dan bambu. Itu pun sudah diganjal beberapa batang kayu di samping kanannya. Serasa berada di Wahana Rumah Miringnya Dufan!

Sedikit berjalan masuk ke arah kelas, saya melihat kain putih membentang di dinding sekolah dengan coretan-coretan nama, pesan, dan kesan. Yep, itu adalah kolom pesan dan kesan bagi para wisatawan di sana. Karena saya hobi banget tanda tangan (saking terobsesinya jadi pengarang novel), saya tulislah pesan dan kesan plus goresan tanda tangan saya di sana (berharap kalau itu adalah buku karangan saya hehe.

Museum Kata Andrea Hirata

Karena saking panasnya suhu di luar, saya rasa sudah cukup foto-foto di sekolahan. Waktunya kami ke Museum Kata Andrea Hirata. And, here we go!

12144782_10206528951960380_2163068343885308761_n
Halaman depan Museum Kata yang warna-warni

Saya pangling ketika memasuki halaman depan Museum Kata karena tempat ini memang nggak kelihatan seperti museum sih. Dengan warna-warni cat ala pelangi yang menghiasi dinding dan lantai, mungkin tempat ini mirip lokasi bermain anak. Lebih tepatnya taman kanak-kanak.

Jpeg
Warna-warni sepeda tua yang tergelantung di teras depan museum
Jpeg
Sansadhia berpose

Awalnya saya belum sadar kenapa museum ini bernuansa pelangi. Tapi akhirnya saya “engeh” juga kalau tempat ini kan bagian dari project Laskar Pelangi.

Karena penasaran, saya menelusuri bagian dalam museum dan memperhatikan setiap detail ruangan. Dari pertama masuk di pintu depan sampai ke bagian paling belakang, museum ini dihiasi kutipan kata-kata dari para tokoh sastra dunia. Salah satunya adalah William Shakespeare.

Jpeg
“It is not in the stars hold our destiny” – William Shakespeare
Jpeg
“Live, Love, Die” – Shakespeare

Dan nggak cuma kutipan kata-kata yang ditampilkan, beberapa instalasi terlihat manis melengkapi museum ini. Pokoknya nuansanya cheerful banget deh!

Jpeg
Sansadhia kelihatannya bahagia banget nih ketemu mesin jahit!
Jpeg
Sepeda tradisional dengan keranjang bunga

Oh iya, beberapa foto adegan anak-anak Laskar Pelangi juga ikut terpajang di ruang tengah. Ada cuplikan raut wajah Ikal yang sedih melihat sahabatnya, Lintang, pergi. Tetiba suasana di ruangan itu menjadi haru.

Jpeg
Foto Ikal dan Ayah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s